banner 120x600
banner 120x600

Jangan Makan Riba! Sebab Dosanya Nge-RIBA-nget!

  • Bagikan

Oleh: Mochamad Fadlani Salam

AYOPROPERTI.COM – Apa yang terpikirkan oleh kamu ketika mendengar kata bunga? Indah dan harum kan? Tapi lain halnya dengan bunga bank konvensional, bukan harum tapi malah menjadi haram. Telah banyak ulama bahkan fatwa MUI menegaskan bahwa bunga bank adalah haram.

Fatwa MUI No 1 Tahun 2004 misalnya, secara tegas menyatakan bahwa praktik bunga dalam perbankan konvensional telah memenuhi kriteria riba an-nasiah, sehingga haram hukumnya. Dan hukum haramnya bunga bank konvensional ini sudah final dan telah menjadi kesepakatan (ijma) para ulama kontemporer.

Selain bunga bank konsvensional, saat ini bisa dikatakan banyaknya celah praktik riba yang dimodifikasi agar terlihat kekinian. Namun kita tidak akan membicarakan bagaimana banyaknya transaksi-transaksi keuangan saat ini yang tidak sesuai dengan syariah. Selama menggunakan konsep bunga, hal tersebut pastilah termasuk riba.

Saat ini, konsep dasar riba sendiri masih kurang difahami dengan baik oleh masyarakat kita. Sehingga wajar apabila umat Islam hari ini masih rendah minatnya untuk beralih ke produk keuangan syariah. Ditambah lagi, seringkali konten-konten kebaikan tentang edukasi haramnya riba dan kampanye untuk meninggalkan produk keuangan konvensional, berujung tanpa menghadirkan solusi.

Pengetahun tentang riba yang dijelaskan dalam Islam, sangat penting sekali untuk kita ketahui. Dalam Islam, Al-quran dan Hadits merupakan dua sumber hukum yang dijadikan sebagai pedoman hidup bagi seluruh umat manusia. Al-Quran menjelaskan bahwa tahapan pengharaman riba tidak datang langsung dengan larangan. Intisari dari QS Ar-Rum (30): 39 hanya mengimbau.

Bahwa jenis transaksi yang dilakukan dengan konsep tersebut akan sia-sia di sisi Allah SWT. Baru kemudian Allah swt menyebutkan subjek pelaku riba dan melarang untuk dipraktikkan (QS An-Nisa (4): 160-161).

Pada tahapan ketiga barulah kemudian Allah swt mempertegas kepada orang-orang beriman untuk tidak memakan riba yang berlipat ganda (QS Ali-Imran (3): 130). Kemudian penulis sendiri menggarisbawahi pada (QS Ali-Imran (3): 130).

Allah swt menyebutkan dengan tegas yang membuka ayat dengan kalimat “wahai orang-orang yang beriman”. Hal ini menjadi sinyal kepada orang-orang yang beriman, agar terhidar dari kebodohan (baca: jahil).

Terakhir, barulah Allah SWT mengancam dan menjelaskan ganjaran bagi orang-orang yang ‘bandel’ masih terlibat dalam riba. Mereka yang masih terlibat dalam riba tidak akan mampu berdiri kecuali seperti orang gila (QS Al-Baqarah (2): 275).

Bagi penulis, merasa bahwa hal ini pernah terjadi di republik yang kita cintai ini, ketika terjadi krisis moneter di Indonesia tahun 1997-1998. Bahkan yang menyebabkan suku bunga pada saat itu naik hingga 60%. Ngeri banget!

Kemudian, jika kita melihat pendapat para ahli tafsir dan riwayat-riwayat mereka tentang sebab-sebab turunnya ayat-ayat tentang riba, maka dapat diketahui bahwa mayoritas mereka menyatakan bangsa Arab Jahiliyah biasa melakukan transaksi riba, khususnya dikalangan orang kaya yang memanfaatkan kesempitan orang miskin untuk memungut riba.

Perbuatan tersebut merupakan hal yang tidak terpuji, dengan demikian yang menjadi indikator penyebab (Illat) hukum haramnya riba adalah karena penindasan.

Maka dari itu, jika logika masih belum cukup untuk membuat takut kita semua, takutlah dengan ancaman riba yang mana merupakan satu diantara tujuh dosa besar.

Rasulullah saw bersabda: ‘‘Jauhilah oleh kalian tujuh dosa yang membinasakan.” Ditanyakan kepada Rasulullah saw, ”Apa saja, ya, Rasulullah?” Nabi menjawab, ”Syirik (menyekutukan Allah dengan lainnya), membunuh jiwa (manusia) yang dilarang Allah selain dengan dasar yang dibenarkan (oleh agama), memakan harta anak yatim, memakan riba, berpaling mundur saat perang, dan menuduh zina terhadap wanita-wanita terhormat. Mereka tidak tahu-menahu dan mereka wanita-wanita beriman.” (Muttafaq Alaih).

Bahkan, Allah dan Rasul-Nya akan mengangkat senjata untuk berperang dengan para pelaku riba ini. Tetapi yang bertaubat dipersilahkan untuk mengambil pokok dari hartanya (QS Al-Baqarah (2): 279).

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *